Feeds:
Posts
Comments

Ingin rasanya menorehkan kisah yang saya potret melalui kedua mata indrawi saya sejak beberapa hari yang lalu, tetapi karena terbentur oleh kepentingan-kepentingan yang tak bisa ditinggalkan, pula masalah minat yang terkadang tak kunjung datang ketika dinantikan. Maka baru malam ini saya mencoba memproyeksikan pengalaman saya. Mencoba menjadi perantara terhadap suatu hal yang entah pada akhirnya dipandang berguna, atau tidak. Mencoba menjadi alat masturbasi pemikiran segelintir orang, atau lebih sopannya perenungan atau mesin pemuas atas berkelebatnya pemikiran yang mungkin sejak jauh-jauh hari kita pertanyakan.

Kala itu waktu mulai beranjak petang, terkadang saya membiasakan diri untuk berjalan-jalan sendirian, barangkali mencari udara segar, atau paling tidak membunuh kebosanan, mengusir kepenatan. Tujuan menjadi suatu hal yang absen nangkring di pikiran saya di saat seperti itu. Seperti biasanya, saya keluar berbekal sebungkus rokok lengkap dengan pemantiknya, dalam beberapa kedipan mata saja saya sudah berada di jalanan. Gambaran suasana malam itu tak jauh beda dari malam-malam biasanya, tak begitu dingin, namun kering. Beberapa bintang mulai nampak walaupun sebagian masih tersangkut di balik awan yang mulai menghitam. Di jalanan yang mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan bermesin, mataku liat mencari satu hal : tempat yang sekiranya bisa digunakan untuk duduk, dan mengamat-amati keriuhan sekitar. Dan salah satu sudut jalan dekat perempatan besar menjadi destinasi terakhir.

Setengah jam lamanya saya duduk memaku di pinggir jalan, mengamati tiap raut muka berbeda yang muncul dari setiap pengendara jalan, ada yang rautnya dikuasai keletihan setelah seharian mencari sesuap nasi, yang lain mungkin baru akan berangkat kerja. Air muka yang berwarna justru terpancar dari wajah muda-mudi yang kemungkinan akan memanfaatkan sebaik-baiknya waktu apel bersama pasangan.

Dan tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh suara mengiba.
“Mas, aqua-ne mas, tulung dipayoni mas. Opo nek ra rokok e mas” (Mas, aqua-nya mas, tolong dibeli. Apa kalau gak rokoknya, mas)

Dengan logat jawa yang begitu kental dan nada yang terbata, anak kecil tersebut memberanikan diri mendekat. Sekali lagi dia mengulangi tawarannya karena sedari tadi aku diam, tak mengindahkan tanyanya. Tubuhnya jauh dari rerata tubuh anak seusianya, kecil, kurus kering. Kulitnya sawo matang, tapi menghitam di sekitar leher membentuk cincin berbahan dasar daki. Tangan dan kakinya lebih legam, entah karena debu yang melekat atau karena sengat terik mentari siang. Rambutnya ikal, bidang wajahnya asimetris, Bola matanya kecoklatan, namun keduanya tak kongruen, yang satu seperti hendak mencolot keluar, bola mata lainnya membelesak kedalam seperti mengecil. Pakaiannya tak terlalu kumal, satu setel kemeja kotak lawas dan celana pendek krem dengan beberapa sobekan disana-sini. Andai perutnya menggelembung mungkin aku akan mengira dia migran dari Etiophia yang fasih berbahasa jawa. Dari mata coklatnya aku menangkap pesan bahwa dia keletihan seharian mencari uang.

Bermodal kecakapan meyakinkan pembeli yang tak sefasih sales panci atau sales pakaian dalam wanita, setelah sempat aku permainkan dengan bakat usil yang aku punya, akhirnya aku luluh juga oleh usahanya. Aku berjalan cukup jauh dan cukup kelelahan, sehingga tak ada salahnya aku membeli minuman dagangannya, pikirku. Setelah transaksi terjadi anak kecil ini mohon diri untuk segera pergi, tapi aku menghambat lajunya dengan suaraku. Aku mengajaknnya duduk disebelahku dan memintanya menemani, untuk sekedar bercerita siapa dirinya, bagaimana kehidupannya.

Namanya Arson, dia putus sekolah. Namanya sempat membuatku bertanya-tanya. Dalam keadaan yang sedemikian keheranan aku berpikir bagaimana bisa dia mempunyai nama seperti itu, yang menurutku keren mungkin, untuk ukuran nama anak pribumi, toh persepsi keren menurutku tak juga surut walau ternyata anak itu tak tahu artinya. Terdengar begitu jantan, layaknya nama ksatria di abad pertengahan mungkin, “Arson!, Arson!”
Sudah-sudah, aku mulai melantur.

Dia lupa apakah itu namanya sedari lahir atau nama yang diberikan oleh orang-orang disekitarnya. Karena dari mulutnya aku tahu bahwa dia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dari balita, mungkin karena alasan klasik tak mampu membiayai anaknya. Penggambaran yang aku tangkap seketika:
Semakin banyak orang tua yang takut menghadapi kerasnya hidup, orang tua yang lembek, yang hanya mampu memuaskan selangkangannya, tanpa mau menanggung bakal benihnya. Lalu kenapa tak meracap dan menggesek-gesekkan kemaluan di pinggiran meja atau mengunjungi los-los prostitusi dengan ijin kerja panti pijat dan sejenisnya kalau alasan menikah hanya dilandasi kepentingan birahi saja?
Saya ingin marah, tapi amarah saya memuai di langit ,rasa geram dan hujatan hanya memantul-mantul dan bergaung di dinding hati, selanjutnya tercekat dan berhenti di kerongkongan, sebelum sempat dimuntahka, setelah menyadari kebingungan selanjutnya. “Saya marah kepada siapa? Apakah kemarahan saya akan menyelesaikan keadaan dan membuat anak ini menjadi tak kekurangan?”

Dia dirawat oleh orang yang menemukannya dijalanan ketika dia berusia lima tahun, yang dikemudian hari dianggapnya sebagai orang tua. Setelah besar, karena penghasilan Pak Narto dan Bu Sriyati, demikian nama orang tua angkat Arson, tak memenuhi harapan dan pas-pasan. Maka dengan bekal seadanya Arson dilepas kejalanan dengan berdagang koran(hanya waktu pagi), rokok, makanan ringan, dan minuman seperti sekarang.

Satu hal yang tak lepas dari ingatan saya adalah senyum yang terus mengembang dari bocah ingus tersebut, bahkan ketika saya tanya minatnya tentang sekolah yang tak pernah dienyamnya pun, anak kecil ini hanya berkata,
“Sekolah ning ndalan yo iso mas, wong ra urung wong-wong sing sekolah kae yo ra tau sinau. Ngko dadine yo kere koyo aku. Ngrekasake wong tuwo tok. Hahahahaha. Eh, tapi aku pengen dadi koyo iki mas. Bapake ngganteng, pinter, nganggo peci meneh, mesti agamane kuat ya mas.” (Sekolah di jalan juga bisa mas, toh kenyataanya orang yang sekolah itu juga pada gak belajar. Nanti jadinya juga miskin kaya aku. Menyusahkan orang tua saja! hahahaha. Eh, tapi aku ingin jadi kaya ini mas. Bapaknya ganteng, pintar, pake peci lagi, pasti agamanya kuat ya mas.)

(sambil menunjuk salah satu baliho kampanye wakil walikota yang mengumbar senyum manis yang tak dibuat-buat, kesan ideal calon-calon aristokrat, dengan peci yang selalu menyertai, tanpa kita tahu apa maksudnya)

Gelak tawa-pun pecah dari balik gigi-giginya yang kekuningan, dan aku pun juga ikut-ikutan tertawa. Kali ini tawa miris yang keluar dari bibirku. Ya, aku merasa tersindir oleh gelagat dan ucapan bocah tengik ini. Andai saja latar peristiwa itu di gang sepi yang sempit, mungkin tanganku sudah mendapatkan posisi yang nyaman di lehernya dan mencekiknya sedari tadi. Sambil mengusap-usap pundaknya, aku hanya bisa mendoakan niatannya, dan mengamini ucapan polosnya yang mungkin akan ditariknya ketika dia tahu seberapa berat tugas yang harus diemban oleh profesi yang diinginkannya. Salahkah bila anak jalanan mempunyai mimpi, Tuhan?

Kami bercerita banyak hal, ketika aku memintanya bercerita akan satu hal, dengan berapi-api dia menjabarkannya. Bahkan ketika aku belum memberinya pertanyaan, dia memberondong dengan jawaban-jawaban yang terbaca dari raut wajahku. Aku rasa dia anak yang cerdas, hanya kurang beruntung. Dan Arson adalah potret satu dari jutaan anak di negeri ini yang kepayahan menghidupi hidup, bergulat mati-matian dengan rasa lapar siang-malam, menghadapi kenyataan pahit yang mereka ratapi setiap harinya, atau kalau meminjam istilah orang-orang yang mudah-berputus-asa: Takdir. Takdir, selalu jadi alasan setiap orang yang tidak mau berusaha, saya kira. Lantas apa hanya dengan kata “Takdir”, kita lalu bisa seenaknya berpasrah diri dengan kedua tangan terlipat sembari menunggu keajaiban datang untuk hari-hari kita? Sama sekali tidak.

Tetapi dalam benak saya paling tidak, Arson adalah potret manusia utopis yang mencoba untuk realis.
Utopis dalam berpandangan ke depan, Realis dalam aplikasi sehari-hari. Entah bagaimana nasib membawanya kelak, atau kemana angin akan menerbangkannya esok. Saya yakin orang-orang seperti Arson adalah seorang jawara kehidupan, seorang manusia sejati secara kodrati. Manusia yang berani menghadapi hidup, tak seperti kedua orang tuanya.

Jeda.

Malam itu saya belajar dari seorang anak jalanan. Bagaimana menghadapi kerasnya hidup, tentang usahanya untuk berlaku lebih licik dari kehidupan, untuk menertawai kerasnya kehidupan itu sendiri. Bahkan, ketika tak bisa tidur aku mencoba kembali ke pojok perempatan jalan tempat aku dan bocah itu bertemu, tapi Arson tak nampak batang hidungnya. Seolah-olah malam menyembunyikannya, atau jalanan tiba-tiba mempunyai mulut yang begitu besar sehingga sanggup menelan dan melumat tubuh kurusnya bulat-bulat. Bahkan, malam-malam berikutnya pun aku masih memikirkan anak itu, tentang kegigihannya, tentang mimpinya yang tak pernah mati.

–Semarang, 24 Mei 2010–

Teruntuk :

MAMA EMY RESTININGSIH.

“…Hadirmu adalah Hakiki, kasih sayangmu adalah esesi, dan aku menjadi seseorang yang bangga akanmu…”

Photobucket


Biarkanlah kini, aku menuangkan sekelumit persepsiku tentangmu, biarkan hati ini yang menuntunku dalam mendeskripsikanmu…

Kau mencintaiku bukan dengan eksplanasi teori berbelit, penjelasan terkonsep dan terperinci, namun dengan cinta yang sederhana, kecup mesra setiap saat, usapan lembut, sepanjang waktu, tak bersyarat. Engkau membesarkanku dengan penuh sabar, cinta berselimut ketulusan, melimpah kasaih mesra berbalut kehangatan, berpeluh keringat dan darah mencari nafkah, hanya untuk melengkapi nutrisi yang aku perlukan, engkau menyingkirkan ego dan kesenanganmu, dan hanya aku yang menjadi prioritas utamamu menjalani kerasnya hidup.

Ya, kini jagoan kecilmu telah beranjak dewasa, mataharimu sudah meninggi dan bersiap menghadapi dunia, benih cintamu telah beranjak menjadi seorang remaja, menanggalkan segala atribut “kekanak-kanakkan”nya. Tidak akan ada lagi kecupan manis yang engkau daratkan di keningku, entah kapan lagi engkau akan mengusap rambutku, menjadi sandaranku ketika kadang aku terjatuh. Ketahuilah bahwa betapa semua ingatanku tentangmu terekam manis dalam relung batinku. Tetapi sampai kapanpun aku tetaplah jagoan kecilmu, yang selalu rindu tuk berada di dekatmu, yang selalu ingin kau timang, yang ingin selalu menghabiskan malam dengan senda gurau dan bermanjaan denganmu.

Tidak banyak yang kuingat ketika aku balita, yang aku tahu, engkau telah melaksanakan tugasmu sebagai seorang ibu super dengan segala keterbatasanmu. Engkau selalu memberiku yang terbaik, dalam segala hal, studi tak terkecuali. Masa SMA ketika ego mulai mengambil kendaliku, sifat pemberontakku mulai tampak, kita mulai sering bersitegang, beda pendapat, beradu argumen yang terkadang sangatlah sepele. Aku tahu engkau terkadang jengah melihat tingkahku, melihat tingkahku yang urakan, jauh dari angan-angan yang kau gantungkan tentangku sebagai seorang anak yang santun. Mungkin batinmu menjerit, marah, geram. tapi inilah anakmu dengan segala kekurangannya. Tapi tahukah engkau di setiap kemarahan dan ketidakpuasanku akan perhatian berlebihmu, aku selalu menyelipkan permohonan maaf dan sesalku? Taukah engkau bahwa aku tetap menyayangimu disetiap pembangkangan yang aku lakukan?

“…Kemarahanmu adalah senandung cinta bagiku dalam kemasan yang lain…”


Tak terasa sudah 18 tahun aku berada di dekatmu, terus merasakan betapa hangatnya kasih perhatianmu, menghirup wangi tubuhmu. Adamu membuatku telah mempelajari banyak hal, darimulah pertama kali aku belajar menghargai wanita, darimulah aku pertama kali memahami definisi “kasih sayang” seutuhnya, darimulah aku belajar kepada siapa aku harus berbakti. Selama 18 tahun pula kau menjadi motivator pribadi sekaligus idolaku, spirit dalam menjalani hari. Andai ada kata yang lebih dari ” terima kasih”, bila saja ada sikap selain berbakti seutuhnya yang mampu menggambarkan betapa besarnya rasa terima kasaih yang ingin kuucapkan, akan kulakukan untukmu. Berjuta materi, gelimang kemewahan, tetaplah tak sebanding dengan tiap tetes air mata yang jatuh saat kau membesarkanku, tak sebanding dengan milyaran keping kasih sayang yang kau dermakan ke hatiku, sedari kecil.

“aku ingin melihat engkau tersenyum bangga disaat engkau menjalani masa tuamu, melihatku menjadi seseorang yang engkau harapkan. aku tak akan mengecewakanmu.”

Beberapa hari lagi aku akan meninggalkanmu, untuk melanjutkan harapan yang kau gantungkan padaku, untuk meneruskan estafet ekspektasi yang disemat di dalam batinku. Ya, melanjutkan studi di tempat lain. Kau berat melepasku, begitupun aku. Biarkanlah kiranya waktu yang sebentar ini kupergunakan bersamamu, membisikkan simfoni cinta ke dalam telingamu, melantunkan senandung rindu yang nanti akan kupendam dalam-dalam.

Inilah anakmu, dengan segala keterbatasan yang dipunyai,yang mengasihimu, mengandalkanmu, anak mama yang selalu menyayangimu.

“…wanita terindah yang dianugerahkan Tuhan dalam hidupku, adalah mama…”

Berjuta peluk cium hangat untukmu, mamaku sayang…

Photobucket

BUNDA NOMOR SATU SEDUNIA.


State of Hate

Kapital Gauli Genital

” materi itu panas “

“Dunia ini perlu divaksinasi dari beragam senyawa klan-klan endemik busuknya tirani”

Perlu kita ketahui di millenium baru ini, tepatnya setalah bumi berevolusi kurang lebih sebanyak 2000 kali berdasar tarikh masehi (a.d – anno domini ) prestisi tidak bisa dipungkiri merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Kapital bertindak sebagai katalisator dalam perannya mengamalgamasikan beragam klan anti-empati.

Setidaknya hal ini diilhami oleh sebagian kawan kita yang menganggap diri mereka “berbeda” ini. Berkaca dari yang sudah-sudah, ternyata ilmu pengetahuan dan teori-teori umat manusia yang tersusun secara sistematis dan turun-menurun pun dipaksa harus fleksibel dan menyesuaikan diri, tidak lengang oleh masa, lenggang oleh opini yang berlaksa. Ambil contoh dalil skala prioritas pemenuhan kebutuhan manusia,namun sekarang telah bergeser dan secara simultan mengalami sedimentasi ke sisi rapuh regresif mentalitas diri, namun sangat progresif terhadap ideas politik dunia ketiga.

Kebutuhan primer meliputi papan, sandang, pangan, sekarang pada aplikasinya 3 prioritas utama itu harus rela berdesakan dengan barang-barang mewah yang menginterpretasikan seseorang yang gila prestisi. Dalam konteks ini saya memang tidak menyalahkan saudara sekalian yang memang bergelimang kapital, tapi saya menyoroti efek kumulatif dan resultan yang ditimbulkan, yaitu mempengaruhi sikap dan perilaku makhluk-makhluk ini dalam bersosialisasi. Bagaimana prestisi menggamit lengan-lengan legam yang dinamakan materi, membelah, bersatu, membelah lagi memunculkan beragam citra diri yang ilogik dan jauh dari kesan kemanusiaan. Prestisi secara restriktif mensegregasikan diri dengan dunia luar, mengkotak-kotakkan umat manusia, seolah memiliki otorisasi untuk memampatkan koloni kaum marjinal di bawah telapak kaki mereka.

Kaum bourgeoisie/bourgeois (baca : /’burzywa`zie/) cenderung mengidentikkan diri sebagai umat eksibisionis, eksklusif, pemuja etos efisiensi kerja, dan cenderung membasuh lengan bila harus berurusan dengan remeh-temeh, tetek-bengek yang menghadapkannya pada kalangan beda strata dalam hirarki martabat dan perspeksi prestisi. Dan yang memilukan hal ini menjadi budaya turun-temurun dan mengakar menjadi sebuah persuasi demoralisasi bagi teruna-terunanya.”L`detroit divine”(utusan Tuhan) begitu kira-kira suara-suara yang bergaung di tempurung juvenil-juvenil muda ini. A superficial juvenile, sekelompok manusia dewasa yang jiwanya terbelenggu prestisi secara berlebih, gila perhatian, maniak tampil tak berotak. Mereka seolah menemukan antitesis bagi kesombongan nurani mereka, yang telah bermahkotakan berlian berukirkan “life for prestige”. Mereka menganggap diri mereka berbeda dengan orang sekelilingnya, hanya karena mempunyai kapital yang berlimpah, mutiara yang menjuntai-juntai, dsb. Merasa bak keturunan darah biru (purebreed) sebuah klan, dengan beragam keunggulan dan merasa kotor, cela jika melakukan kontak dengan klan lain dan tidak akan bisa memurnikannya lagi dan merugi karena tidak mendapat restitusi. Merasa paling pantas terpampang di Ode klasik masa lampau. Merasa kaumnya paling unggul, tak beda dengan sikap chauvinism bangsa Arya, atau seperti ksatria-ksatria Dragon Court (Skandinavia-Bavaria). Merasa bersinar dan gemerlap bak Aurora-borealis di landskap petang Antartika. Lebih jauh, mereka mulai mengidap megalomania stadium akhir, atau menganggap diri mereka sebagai komunal avant-garde yang unggul dalam bidang seni dan mempunyai selera tinggi mengenai beragam peradaban yang mereka ciptakan sendiri dalam dunia antah-berantah otak mereka. Potensi diri kalian ingin digali, ditemukan dan dihormati secara adiluhung bak Candi Borobudur yang dipugar oleh UNESCO, yang sebenarnya cuma pertaruhan gengsi, ditemukan seperti puing-puing Atlantis di dasar samudra Atlantik. Ya, merasa beradab bak peradaban machu-pichu yang telah terkubur, Tentunya jika kita diberi hak untuk memilih sebelum kita dilahirkan, kita akan memilih dilahirkan menjadi kaum yang sehat-sentosa, tak bercacat cela, rupawan. Tapi kita tidak bisa memilih!! Apa bedanya kaum ini dengan kaum yang menyukai lelucon-lelucon rasis??

Mereka lena dengan beragam agitasi-agitasi sekeliling akan pentingnya perhatian dari audiens, mau-maunya dibelenggu, dipasung, dilucuti oleh gengsi, yang cuma sekelumit dari bobroknya fragmen jati diri. Lantas mengapa mereka repot-repot membentuk koridor-koridor dan menamainya “perbedaan”? Tertawa jenaka, ketika melihat tangan remaja seusianya legam terbakar terik, membanting tulang, memainkan parodi kekecewaan di diri mereka, teruna-teruna eksibisionis ini hanya ongkang-ongkang kaki dan masa bodoh, serta menjadikannya sebuah obyek lelucon tak berperasaan. Jika diibaratkan macam rabun mata, mata hati mereka meradang dan mengidap myopia (rabun jauh). Susah menerawang jauh kedepan, dan hanya berkutat melihat apa yang disekitar. Selalu mendongakkan kepala keatas, tanpa mau mencari ilham atas apa yang mereka lihat dibawah. Lagi-lagi, saya tidak mendeskriditkan mereka, sah-sah saja, tapi saya mengutuki sikap mereka.

Beginikah Akhir semesta, ending dari kosmos yang menurut ahli falak akan tutup usia di ujung desember 2012 ? Tengok saja, penghuninya saja sudah menginterpretasikan diri mereka sebagai kumpulan konstelasi bintang-bintang yang tumpah ruah di ranah bima-sakti, berpijar, meledak, melesat-lesat di tatanan jagad dengan kemilau angkuh dan kecongkakannya. Sangat Ironi, Paradoks lain bagi tangan-tangan lemah yang masih berkutat di genangan becek kemelaratan, dengan otot-otot legam terburai, seakan getir ingin menceritakan penatnya kepada siapa saja. seakan pedih enggan berpendar dari hidup mereka, hidup seadanya, wajah pias berharap, menantang maut disetiap lembaran baru hari mereka.

” kapital mempengaruhi seseorang dalam menilai sesama, mengelompokkan, dan enggan bergaul dengan sesama yang dirasa tidak memiliki strata yang sepadan “

“Aku terlalu lemah untuk mengutuki prestisimu, biarkan angin yang bergesekan dengan kulitku yang merajammu, biarkan sara gemericik air yang menghujatmu bertalu-talu”

/dimaz (mempertanyakan eksitensi dan esensi dari hawa panas “materi” )

sebuah topik yang minta diangkat oleh seorang teman saya, sebut saja “ambigu” / “labia major” (hahaha)


Benang Merah Imanensi Halusinasi dan Ekspektasi

” aku bermimpi karena aku seorang pemberani”

sebuah solilokui di senja itu:

“Beranikah aku alirkan perahu mimpiku di aliran payau sungai kedurjanaan yang dipenuhi riak-riak ketidakpastian?”

“Bukan hanya itu, aku akan menerbangkannya melintasi atmosfer tekad yang tebal, lindap senyap diantara kungkungan mega euforia yang berarak, dan mendudukannya manis di haribaan pelangi-pelangi ekspektasi…”


Ekspektasi, sbuah kata tunggal serapan yang ijika dirunut dari etimologinya,expectation” , berarti harapan, dugaan, taksiran. Sbuah kata yang kian hari kian banyak orang kehilangan selera makan, spirit untuk survive dan surutnya animo personal jika dihadapakan pada sepenggal kata sadur ini.

Secara umum, masyarakat proletar, umumnya meyakini bahwa kata ini tidak layak untuk mereka sajikan di drama hidup mereka, sebuah opsi yang tidak laik berkecamuk di pikiran dan hanya ada di awang-awang rasio. Seakan susah digapai oleh beragam daya, upaya, setara jika mereka mendaki sebuah menara adidaya yang menuntut sikap perfeksionis sebagai komposisi baku fondasi bangunan kokoh “Ekspektasi”. Mahfum jika secara kodrati, mereka merasa sinikal, alergi, bahkan antipati. Jangankan memujakan impian, visi, misi, atau rencana yang akan ditapaki, untuk menggenapi pekik sonar-sonar parau perut mereka pun tak mampu. Sungguh memilukan, mereka meng-alegorikan substansa jalan hidup mereka dengan celoteh yang menggiriskan hati, mendermakan realita penerimaan takdir pada kematian, menertawakan garis nadi pribadi karena pada dasarnya mereka adalah kaum yang kecut untuk bermimpi, kurang berani mendedikasikan hidupnya untuk menggauli ekspektasi. Mereka tak ubahnya seperti wanita-wanita pesolek yang mendambakan tubuh langsing-semampai, annorexia..maupun seorang yang enggan membunuh ketakutannya akan ketinggian, acrophobia..seorang yang mendeskriditkan kuman, germophobia..seorang yang ditenung roh-roh pengucilan diri, dan takut akan kerasnya dunia luar, agoraphobia..saya menyebut mereka dengan istilah, expectaphobia…apa bedanya??

Hidup mereka urung beranjak dari kurva kesengsaraan yang puncaknya diselimuti cendawan gulita ketidakpastian, bersimultan membentuk partikel-partikel keengganan dan mengarah ke titik nadir kemiskinan. Ironis, memang, tetapi mereka meyakini bermain aman sebagai sebuah idea logis yang cukup mumpuni, dengan menisbikan anatomi-anatomi mimpi yang menggelayut di kisaran nurani. Perlu ada restrukturisasi mental, penyekapan mental personal oleh pranata-pranata skolastik yang membabi buta di ranah intelektualitas yang memadai. Jalan hidup mereka tanpa dikomando memaparkan keambivalensian yang mudah ditemui dari beragam visualisasi piktoral.

Jika sudah begini, malamlah yang merampas kendali dari alam sadar mereka. Menggengam jemari lentik mereka dengan basuhan derasnya afeksi dan melanjutkan sinergi mimpi-mimpi ilogik mereka yang bertabur histeria. Mimpi sendiri diberikan sang Khalik sebagai bentuk pemuas bagi batin, atas apa yang tidak terjadi di panorama realita. Memang tidak semua tendensi mimpi merujuk ke hal ini, tetapi paling tidak, mimpi ini selalu hadir bak gunung utopia yang tiba-tiba dengan energi kataklismik yang dahsyat menyeruak ke permukaan, mendistorsi relung-relung imaji, menjalin fantasi, yang pada akhirnya menciderai kenyataan, bak kawanan Hyena di padang belantara sabana Afrika yang selalu mengendus peluang, tuk sebentar bercengkrama dengan sang waktu, memainkan perannya yang ambigu. Sekarang semua problem terletak di lengan tiap personal. Merangkai Halusinasi dan merealisasikannya, atau mengharubirukan prahara di samudra kekalutan mereka dan mendevastasikanya menjadi sbuah cinderamata kesia-siaan.

” Bahwa sesungguhnya pesaing yang paling berbahaya adalah seorang yang masih bermimpi ketika ia sudah terbangun” Satu lagi pedoman hakiki yang tidak dimiliki koloni proletar di setiap hirarki. Sebentar beranjak pulas, sebentar terbangun, mengernyapkan mata, dan mimpi itu tamat, tutup buku, mendeviasi menjadi sbuah klimaks sandiwara hidup. Tetapi seorang platonis yg ambisius tetap saja bermimpi ketika terbangun, tetap mengsinkronkan ambisi dengan konkretnya paradigma visi mereka.

Perbedaan sangat eksterm dialami kaum ini, seorang pemimpi sejati. Beragam kalangan mendefinisikan mereka sebagai komunitas pedantik, impresionis, maupun oportunistik sejati, tetapi toh merekalah petarung-petarung murni yang selalu mendompleng stigma negatif mengenai interpretasi harapan yang tidak metodif, tidak nyata. Mereka tak hentinya mendendangkan simfoni mental baja yang dulunya selalu dilanda krisis yang sangat antediluvium pada cara pandang personal. Akhir kata, selamat bagi umat manusia yang disetiap hembus nafasnya tampak gurat ekspektasi, berjubahkan gelagat amelioratif, berhunuskan tekad yang runcing terasah, merapal motivasi yang beradu di otak, berselempangkan motivasi bulat tuk selangkah lebih maju, yang punggungnya terbias spektrum rintik pelangi-pelangi imajiner, untuk terbang ke singgasana zenith yang agung.

” ketika ada harapan, disanalah merekah kehidupan. itu akan memenuhi kami dengan kekuatan dan keberanian baru”

(sebuah cuplikan dari “Diary of Anne Frank”, Karya seorang gadis kecil, ANNE FRANK, gadis Yahudi yang disekap di kamp konsentrasi Nazi, Jerman semasa perang dunia II)

(Sebuah diary terlaris sepanjang masa, tercetak lebih dari 30 juta kopi, dan diterjemahkan menjadi 60 bahasa)

“i don`t know why my fuckin` thought is so uncomprehensive….”

ziarahi mautku.rajam takdirku

/ dimaz

” 8-BIT FOR A LITTLE BIT

” Amalgamasi Resonansi Rekonstruksi Musikalitas “


Electronical Destruction is :

  • electronical/grindcore/screamo .
  • solo, central java, ina .
  • 2 men .
  • pc | notebook | behringer | frutti-loop 8 | mixer .
  • love | passion | liquor | cigarette | stensile | magz .
  • i shoot the duck hunt | bla bla blast! | as the world fades | attack attack! | dance gavin dance | brokencyde | iamerror | genghis torn | bombchu bowling | go! with fourteen o | etc

- songs :

  • numbness
  • symphony of andalusia
  • marionette`s tears
  • lullaby of beloved whore
  • toon elementary musical
  • nintendo beat for Hitler
  • engulfs this shit you call love, etc

-details :

l_b6d66bfffdc3436b9fd739b06b7c2f50

Apa??

- Sebuah akhir dari pengkontemplasian panjang kami…

Siapa??

- ” Dari kami. oleh kami.untuk kami ” (aristoteles,dengan sedikit perubahan.)

Mengapa??

- Karena suara-suara “nat-nit-nut” ini terdengar begitu manis, lucu, harmonisasi dari sinkretisasi sisi antagonis dunia yang beraklamasi menyalahkan kehidupan, dan sisi protagonis dari masa kekanak-kanakan yang masih menggenang distiap inchi diri kami..

Kapan dan Dimana??

- Di suatu malam, dipinggiran jalan yang menyiratkan adanya keheningan, sembari mengernyitkan dahi tanda keganjilan akan gairah absurd kami yang melesat-lesat di daerah simpul saraf kami, diantara deburan ketidaktahuan, yang terbaluri galena-galena kemauan…

untuk lebih jauh, kunjungi site kami, di :

www.myspace.com/electronicaldestruction

www.friendster.com/electronicaldestruction


” bahwa kehidupan yang kacau adalah pengasah paling tajam untuk imajinasiku “

- gibran, kahlil (boston,1927) -


“musik muncul dari hati dan menembus hati “

- beethoven, ludwing van -


” Disaat Masa Kanak-Kanak Mengambil Alih Kedewasaan Kami “

” Histeria . Euforia . Katastrofa . Elegi “

” Usaha Penyulingan Dari Hati Yang Legam Menghitam “

/dimaz



“Restorasi KeciL Bagi Kegamangan Rasio”

masih adakah ruang eksplisit bagi saya untuk bersenda gurau sejenak, menguliti penat, dan menghentikan rutinitas ??

kamu_sedih_____aku_nggak___by_41211

dan aku masih berlari, menyusuri stiap kelokan hati yang tak berpengharapan, terus berlari..hingga asaku lelah dan mati,hingga aku menemui jalan berujung tanda kemenangan moral atas sebuah indikasi kebatilan,selama itu belum terjadi,aku akan terus berderap, sejauh aku menyayangi teman, kerabat, dan kekasih…

run___rauf___run___by_greatanin

dan aku masih berontak, memagari diri dari beragam tingkah amoral yang menyudutkanku di lokus-lokus tak berpenghuni yang bermaterikan kegetiran, kepedihan, dan tangis..

“takhayul membakar dunia, tetapi filsafat memadamkannya”

  • Voltaire, salah seorang kritisi yang hidup pada zaman renaissance_

Ketika Otoritas Memasuki Fase Malfungsi

Lagi-Lagi saya harus menerima kenyataan pahit, kehilangan sekelumit identitas diri, mengaku apa, dan dengan alasan apa, mereka mengulik cacat yang aku punya dengan sedikit pandangan menyelidik berharap menemui titik terang deduksi yang dapat digunakan tuk menjustifikasi personal keparat ini. Sebenarnya adakah korelasi maupun konjungsi yang tepat antara bentuk identitas dengan tingkat intelektualitas murid dan nilai-nilai akademisnya?? brengsek….

Lagi-Lagi, terlalu sering menggunakan frase itu..biarlah,karena memang aku sudah mengalami kejadian naas, tragis, jika boleh saya menyebut ini memilukan, atau apalah itu karena kejadian ini terjadi berulang-ulang terjadi,dan kalau sudah begini saya hanya bisa monolog dan bersolilokui sembari menertawai diri dengan mata batin saya,sementara mata indra saya tetap menerawang nanar, ehmm..tepatnya memandang liar ke panorama siluet2 tubuh feminim yang teronggok dipinggiran jalan sembari menanti dinginnya malam menggerayangi tubuh mereka..ahahah,sudah..sedikit introduksi yang tidak laik diperdebatkan, biarkan saja naluriku sebagai Marikh, sang Merah, Darah Adam, yang mengeksplanasikannya melalui bala bantuan hormon testosteronku, dan lagi…hanya bisa memandang…anjrooot!!cukup, kembali lagi ke topik permasalahan, yang saya paham anda-anda tidak memahami apa maksud saya hingga sejauh ini, karena ini memang topik personal dan hanya beberapa koloni jahanam saya yang paham, tapi apa peduli saya pada anda sekalian?? jika merasa muak ya tinggal tutup halaman ini, cari saya, dan kebiri (maaf)titit saya karena ketidakpuasaan anda..

Saya hanya bisa berpangku tangan menyaksikan oposan-oposan yang diberi amanat malah menceraiberaikan khianat dan serapah laknat dari muridnya. Laiknya bidat-bidat penyesat yang selalu haus akan kemurtadan dan melumuri gigi-gigi penggerak nalar mereka dengan wacana-wacana teoritis,terlalu pragmatis, namun lebih dari cukup untuk menenggelamkan mereka kepada dogma yang tak bertahta. Memang saya akui praktisi-praktisi pengajar di negara ini sudah cukup mempunyai kualifikasi yang memadai, memangku jabatan-jabatan penting diluar, adikuasa saat memasuki gerbang penuh karat yang mengisolir ribuan remaja dari dunia luar, dengan beragam manuskrip kehidupan, faham-faham heterodoks rumit, senyawa alkemik dasar, ataupun beragam nukilan metode mengenai teori relativitas, teori spasial, yang menurut saya hal itu tidak praksis dan hanya membuang-buang waktu, taksiran saya, mungkin hanya 15%-20% yang terpakai, selebihnya adalah bentuk subsistem keserasian gerak dan pikiran manusia, yg disebut “skill”.

Namun menurut pandangan saya, mereka tetaplah anak kecil yang selalu merengek ketika sang ibu tidak memberi mereka permen gula jawa, ataupun remaja yang berontak karena kesusahan mencari waktu untuk membaca beragam stensil-stensil yang meracuni darah mereka dengan yang disebut “NAFSU”. Merunut beragam identifikasi saya diatas, mereka tetaplah mahkluk yang bagi saya patut dikasihani, bukan dalam makna denotatif, tetapi “Dikasihani” sebagai salah satu bentuk majas ironi…yah,menghela nafas panjang menjadi aktualisasi kulminasi saya menuju tatanan hidup yang lebih baik , rapi (berdasar pengakuan kekasih”,hahaha, dan monoton) dan jika diperbolehkan menyadur judul lyric salah satu band di playlist saya, sebut saja SURF NAZIS MUST DIE, saya menyerukan lolongan yang amat menggelikan bagi saya, “ EMO KIDS BLOWN TO SHIT !!! “,GODDAMN`

Dan tetap, Kedigdayaan adalah suatu bentuk kefanaan yang tersuksesi dari batin seeorang untuk selalu diekspos, dipertontonkan, diusung dengan panji-panji kemunafikan,tak lebih dari manifestasi supremasi yang diberhalakan di kalbu stiap umat manusia…

“kembali KEHIDUPAN berdehem dan berujar, “mintalah susu pada KEMATIAN…”

“Aku disini, aku berdiri, aku mencumbu, aku mengadu, pada dengki dan pilu”

” aku tersenyum pada dunia dengan lapang, bukan dunia yang melapangkan senyum untukku”

_pria dilema, schmo of schizophrenia just be a silent witness

//hantam.injak.ludahi aku//

/dimaz

MOMENTUM KAPITAL KANGKANGI MENTAL PERSONAL

” ( Gagalnya Sublimasi Hati) “

Serasa Memeluk kematian ketika dicecar berbagai nestapa, dan duka lara yang tak kunjung usai, saya mencoba mengambil perspeksi autokrasi dari dalam lokus otak saya ketika sebab musabab yang terjadi dijadikan parameter deskriptif dan konjungsi hal-hal yang ganjil dan sedikit membingungkan ini . Terhenyak setengah sadar, kungkungan kabut pagi itu terasa begitu dingin, frigid, tnpa ada semburat kehangatan mentari yang biasanya menemani saya menjerang pagi. Tak lupa saya merama-rama probabilitas cinta saya, kadar pekatnya pedih yang masih menggantung di langit-langit rasio, namun semuanya masih kabur. Serta merta nurani ini dicampakkan khianat, stimulan-stimulan “SAYANG” pun berhenti meletup karena ditibas pilu oleh “TIPU DAYA” dan bujuk rayu gonggongan iblis.

Kilas balik ini seakan kembali me-refresh bilik otak kiri saya untuk kembali mereduksi dan merekonstruksi pelbagai eksplanasi fiksi ini, dan berharap dapat memilahnya dari asumsi sampah macam personal yang tak mengecap bangku sekolah.

Di saat negara ini gontai terhuyung-huyung karena himpitan pelbagai utang, matinya transparansi yang hidup di dalam diri personal pun harus ikut ambil bagian membuka jalan bagi kaum yang vokal terhadap kapital, materi hanya dijadikan tempurung alasan bila sudah dihadapkan pada seringai bui dan akuisisi mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Seolah materi angkuh berkoar eksplosif mengejawantahkan dirinya sebagai Tuan yang Menunggangi burut nadi kehidupan tiap personal, memasung mulut kaum marginal yang membutuhkan peser untuk merangkai simfoni mimpi menjadi sebuah hegemoni, memampatkan moral yang semakin terselimuti aktualisasi amoral. Ironisnya, visualisasi ini terjadi secara perpetual, tanpa ada usaha dari pihak-pihak bertuah, yang kadang lemah bak ceceran nanah, yang mencengkeram erat motto ini di dalam diri mereka,”trima materi asal sembunyi” atau “lewat pintu belakang saja”

Peringai mereka menjadi persuasi bagi generasi di tanah air, pukul rata tiap kepala yang sporadis menguliti gurat-gurat mimpi manis mereka, menempeleng “TEPA SELIRA”, namun mendompleng “MURKA”. Kasarnya perlu ada pemutusan generasi, pembabatan kaum hedonis, tapi belenggu ini sudah mendarah daging, pesing, dan tak asing. Dan belukar itu menjadi susah tuk disiangi. Algojopun gigit jari karena hanya bisa merengek, lantaran tak ada persetujuan dan justifikasi dari pengadil meja hijau. Melaju kencang bak kereta uap, menerjang setiap gurat mimpi dan ekspektasi, tanpa memberi kesempatan semicolon tuk mencoba bercengkrama sebentar. Tak jauh beda dengan proyektil yang dimuntahkan dari selongsong pedih dan melumat bidang tembaknya secara acuh nan arogan. Kontribusinya benar-benar menghitamkan nurani, semacam mempunyai ability tuk mencengkeram elegi dan enggan berpendar dari kisaran hati.

Mencoba sangsi dan kesampingkan “RASA SAKIT” yang tendensinya mengarah menjadi “DENDAM” yang membekas bila tak lekas ditebas, mengecap pelarian-pelarian struktural yang hambat metabolisme pemikiran. Melalui ruang alternatif ini, saya ingin mencari eksodus yang tepat untuk menghalau ekspansi hati saya dari keletihan akan cinta ini. Terima Kasih.

Aku Hanya Berdoa Agar Ada Kutuk Yang Lebih Baik Dari Mati Digerogoti Anjing!! “

“Kau Rengkuh Harapku Dengan Jemarimu, Kau Khianatiku Dengan Punggungmu !! “

( /pria dilema, menyerahkan diri pada “Pasir Hisap” yang menamai dirinya “KESENGSARAAN” )

Photobucket

Teracung tinggi kedua jari tengah ini untuk pedihnya kehidupan, berkabung atas matinya hati yg dikalahkan oleh dengki dan ketidakmampuan hadapi hiruk pikuk penat dunia, serentak kibarkan bendera setengah tiang simbolik kegamangan ekspektasi dan harapan…

Disadari atau tidak, pluralitas kerap bersinggungan dengan kemajemukan, dimana latar belakang, pandangan hidup & banyak faktor lainnya menjadi prioritas utama tuk sematkan animo perbedaan sebagai jurang penghalang ke-bhinekka-an. Negara kita saja, mempunyai semboyan yang dengan gamblang mengemukakan pluralitas, dengan maksud untuk melegitimasi rakyatnya untuk menghayati, mengilhami, dan mengamini hal tsb, tapi pada aplikasi di lapangan, mengungkapkan masih minimnya peringai massa akan hal tsb.

Stabilitas masyarakat yg dibumbui “PERSAUDARAAN” seolah ter-anihilasi ke liang lahat yg sarkastik ketika “SENTIMEN” berpaut dengan “IRASIONAL”. Berdebam memantik ter-visualisasikannya euforia anarki& perilaku VANDALISM sontak menjadi perpanjangan tangan-tangan yang tak mempunyai respek dan dedikasi terhadap lingkungan sekitar. Diperparah dengan kerancuan tiap personal dalam mendefinisi& menganalogikan kepluralitasan, tak heran timbul beragam cabang pemikiran yg melenceng dari pusara esensinya.

Banyak dari kelompok in-group yg menganggap diri mereka menjadi pembenaran atas segala borok yang ada, sangat fundamental dalam melakoni parodi kehidupan,tanpa mau menerima diferensiasi dan hal baru yg mereka pikir absurd dan tidak bisa dimaklumi, dan ini pula yang semakin mengesahkan kekolotan mereka.Konvensional namun irasional……

Sanubari saya tercabik, diperkosa “KENGERIAN” yang beralaskan getir dan pilu karena bergesekan akan potret horison macam ini. Paradigma saya sebagai seorang yang masih hijau menjadi berkabut, kelabu. Dan sebaiknya koar bibir ini disimpan karena tak akan didengar, bungkam dan berpangku tangan menjadi aktualisasi yang tepat, mengingat khianat makin tersirat, pembusukan dan degradasi moral smakin laknat, hancurkan sekat-sekat integritas dan perlebar gap kesenjangan sosial. Disusupi spionase “DISKRIMANSI” yg diberangus atas nama “PERBEDAAN”, menggengam erat “ESTIMASI” yg komprehensif, lancarkan laju dogma-dogma pragmatis namun sdikit orthodoxial yg slalu saja berorientasikan neraka dengan embel-embel hawa surga tanpa adanya nalar jernih dan masuk akal….

Kembali katastrofa yang memang sudah lama ingin saya hindari hanya menjadi jengkal-jengkal imajiner yg mengorbit di kurva mimpi saya,yang tak kunjung merenda larik-larik kenyataan. Letih menyulam angan, belum menjadi pintalan-pintalan kenyataan, tetapi sudah tertebas belati aristokrat, bentuk tampuk sempurna absolutisme yg menunggangi rakyat melarat yang hanya bisa lapang menerima kobokan kaki pejabat…

Iritasi hati kian hebat, bercampur dengan kompleksitas elegi. bertumbukannya “EGO” &”AMBISI”, liat dipadamkan amarah yang terpantik galau, terbujur kaku. Destilasi kehidupan sontak terombang ambing ketidaksigapan hadapi inisiasi suram yang digadang-gadang menjadi sebuah jalan takdir. Tanpa basa basi dan permisi, spektrum derita ini berpendar begitu cepat membakar gerbong nurani, ingin memang tumpas kekerdilan emosi hadapi kehidupan cinta saya, ya lagi lagi…

predator ekslusivitas tetaplah mengekor dan bersembunyi dibalik topeng kolektivitas personal,layaknya pencampakan deskripsi di banyak film-film kolosal yang dipacu tuk rasakan semilir sepoi tamak dan kekuasaan…..

07.40PM ; 28.11.08

fuckme//hateme//spiteme _


/Pria Dilema ,”( Potret pelajar SMA yang mencoba interpretasikan pekikan parau hatinya )”

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.