MOMENTUM KAPITAL KANGKANGI MENTAL PERSONAL
” ( Gagalnya Sublimasi Hati) “
Serasa Memeluk kematian ketika dicecar berbagai nestapa, dan duka lara yang tak kunjung usai, saya mencoba mengambil perspeksi autokrasi dari dalam lokus otak saya ketika sebab musabab yang terjadi dijadikan parameter deskriptif dan konjungsi hal-hal yang ganjil dan sedikit membingungkan ini . Terhenyak setengah sadar, kungkungan kabut pagi itu terasa begitu dingin, frigid, tnpa ada semburat kehangatan mentari yang biasanya menemani saya menjerang pagi. Tak lupa saya merama-rama probabilitas cinta saya, kadar pekatnya pedih yang masih menggantung di langit-langit rasio, namun semuanya masih kabur. Serta merta nurani ini dicampakkan khianat, stimulan-stimulan “SAYANG” pun berhenti meletup karena ditibas pilu oleh “TIPU DAYA” dan bujuk rayu gonggongan iblis.
Kilas balik ini seakan kembali me-refresh bilik otak kiri saya untuk kembali mereduksi dan merekonstruksi pelbagai eksplanasi fiksi ini, dan berharap dapat memilahnya dari asumsi sampah macam personal yang tak mengecap bangku sekolah.
Di saat negara ini gontai terhuyung-huyung karena himpitan pelbagai utang, matinya transparansi yang hidup di dalam diri personal pun harus ikut ambil bagian membuka jalan bagi kaum yang vokal terhadap kapital, materi hanya dijadikan tempurung alasan bila sudah dihadapkan pada seringai bui dan akuisisi mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Seolah materi angkuh berkoar eksplosif mengejawantahkan dirinya sebagai Tuan yang Menunggangi burut nadi kehidupan tiap personal, memasung mulut kaum marginal yang membutuhkan peser untuk merangkai simfoni mimpi menjadi sebuah hegemoni, memampatkan moral yang semakin terselimuti aktualisasi amoral. Ironisnya, visualisasi ini terjadi secara perpetual, tanpa ada usaha dari pihak-pihak bertuah, yang kadang lemah bak ceceran nanah, yang mencengkeram erat motto ini di dalam diri mereka,”trima materi asal sembunyi” atau “lewat pintu belakang saja”
Peringai mereka menjadi persuasi bagi generasi di tanah air, pukul rata tiap kepala yang sporadis menguliti gurat-gurat mimpi manis mereka, menempeleng “TEPA SELIRA”, namun mendompleng “MURKA”. Kasarnya perlu ada pemutusan generasi, pembabatan kaum hedonis, tapi belenggu ini sudah mendarah daging, pesing, dan tak asing. Dan belukar itu menjadi susah tuk disiangi. Algojopun gigit jari karena hanya bisa merengek, lantaran tak ada persetujuan dan justifikasi dari pengadil meja hijau. Melaju kencang bak kereta uap, menerjang setiap gurat mimpi dan ekspektasi, tanpa memberi kesempatan semicolon tuk mencoba bercengkrama sebentar. Tak jauh beda dengan proyektil yang dimuntahkan dari selongsong pedih dan melumat bidang tembaknya secara acuh nan arogan. Kontribusinya benar-benar menghitamkan nurani, semacam mempunyai ability tuk mencengkeram elegi dan enggan berpendar dari kisaran hati.
Mencoba sangsi dan kesampingkan “RASA SAKIT” yang tendensinya mengarah menjadi “DENDAM” yang membekas bila tak lekas ditebas, mengecap pelarian-pelarian struktural yang hambat metabolisme pemikiran. Melalui ruang alternatif ini, saya ingin mencari eksodus yang tepat untuk menghalau ekspansi hati saya dari keletihan akan cinta ini. Terima Kasih.
“ Aku Hanya Berdoa Agar Ada Kutuk Yang Lebih Baik Dari Mati Digerogoti Anjing!! “
“Kau Rengkuh Harapku Dengan Jemarimu, Kau Khianatiku Dengan Punggungmu !! “
( /pria dilema, menyerahkan diri pada “Pasir Hisap” yang menamai dirinya “KESENGSARAAN” )
