Ketika Otoritas Memasuki Fase Malfungsi
Lagi-Lagi saya harus menerima kenyataan pahit, kehilangan sekelumit identitas diri, mengaku apa, dan dengan alasan apa, mereka mengulik cacat yang aku punya dengan sedikit pandangan menyelidik berharap menemui titik terang deduksi yang dapat digunakan tuk menjustifikasi personal keparat ini. Sebenarnya adakah korelasi maupun konjungsi yang tepat antara bentuk identitas dengan tingkat intelektualitas murid dan nilai-nilai akademisnya?? brengsek….
Lagi-Lagi, terlalu sering menggunakan frase itu..biarlah,karena memang aku sudah mengalami kejadian naas, tragis, jika boleh saya menyebut ini memilukan, atau apalah itu karena kejadian ini terjadi berulang-ulang terjadi,dan kalau sudah begini saya hanya bisa monolog dan bersolilokui sembari menertawai diri dengan mata batin saya,sementara mata indra saya tetap menerawang nanar, ehmm..tepatnya memandang liar ke panorama siluet2 tubuh feminim yang teronggok dipinggiran jalan sembari menanti dinginnya malam menggerayangi tubuh mereka..ahahah,sudah..sedikit introduksi yang tidak laik diperdebatkan, biarkan saja naluriku sebagai Marikh, sang Merah, Darah Adam, yang mengeksplanasikannya melalui bala bantuan hormon testosteronku, dan lagi…hanya bisa memandang…anjrooot!!cukup, kembali lagi ke topik permasalahan, yang saya paham anda-anda tidak memahami apa maksud saya hingga sejauh ini, karena ini memang topik personal dan hanya beberapa koloni jahanam saya yang paham, tapi apa peduli saya pada anda sekalian?? jika merasa muak ya tinggal tutup halaman ini, cari saya, dan kebiri (maaf)titit saya karena ketidakpuasaan anda..
Saya hanya bisa berpangku tangan menyaksikan oposan-oposan yang diberi amanat malah menceraiberaikan khianat dan serapah laknat dari muridnya. Laiknya bidat-bidat penyesat yang selalu haus akan kemurtadan dan melumuri gigi-gigi penggerak nalar mereka dengan wacana-wacana teoritis,terlalu pragmatis, namun lebih dari cukup untuk menenggelamkan mereka kepada dogma yang tak bertahta. Memang saya akui praktisi-praktisi pengajar di negara ini sudah cukup mempunyai kualifikasi yang memadai, memangku jabatan-jabatan penting diluar, adikuasa saat memasuki gerbang penuh karat yang mengisolir ribuan remaja dari dunia luar, dengan beragam manuskrip kehidupan, faham-faham heterodoks rumit, senyawa alkemik dasar, ataupun beragam nukilan metode mengenai teori relativitas, teori spasial, yang menurut saya hal itu tidak praksis dan hanya membuang-buang waktu, taksiran saya, mungkin hanya 15%-20% yang terpakai, selebihnya adalah bentuk subsistem keserasian gerak dan pikiran manusia, yg disebut “skill”.
Namun menurut pandangan saya, mereka tetaplah anak kecil yang selalu merengek ketika sang ibu tidak memberi mereka permen gula jawa, ataupun remaja yang berontak karena kesusahan mencari waktu untuk membaca beragam stensil-stensil yang meracuni darah mereka dengan yang disebut “NAFSU”. Merunut beragam identifikasi saya diatas, mereka tetaplah mahkluk yang bagi saya patut dikasihani, bukan dalam makna denotatif, tetapi “Dikasihani” sebagai salah satu bentuk majas ironi…yah,menghela nafas panjang menjadi aktualisasi kulminasi saya menuju tatanan hidup yang lebih baik , rapi (berdasar pengakuan kekasih”,hahaha, dan monoton) dan jika diperbolehkan menyadur judul lyric salah satu band di playlist saya, sebut saja SURF NAZIS MUST DIE, saya menyerukan lolongan yang amat menggelikan bagi saya, “ EMO KIDS BLOWN TO SHIT !!! “,GODDAMN`
Dan tetap, Kedigdayaan adalah suatu bentuk kefanaan yang tersuksesi dari batin seeorang untuk selalu diekspos, dipertontonkan, diusung dengan panji-panji kemunafikan,tak lebih dari manifestasi supremasi yang diberhalakan di kalbu stiap umat manusia…
“kembali KEHIDUPAN berdehem dan berujar, “mintalah susu pada KEMATIAN…”
“Aku disini, aku berdiri, aku mencumbu, aku mengadu, pada dengki dan pilu”
” aku tersenyum pada dunia dengan lapang, bukan dunia yang melapangkan senyum untukku”
_pria dilema, schmo of schizophrenia just be a silent witness
//hantam.injak.ludahi aku//
/dimaz