Kapital Gauli Genital
” materi itu panas “
“Dunia ini perlu divaksinasi dari beragam senyawa klan-klan endemik busuknya tirani”
Perlu kita ketahui di millenium baru ini, tepatnya setalah bumi berevolusi kurang lebih sebanyak 2000 kali berdasar tarikh masehi (a.d – anno domini ) prestisi tidak bisa dipungkiri merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Kapital bertindak sebagai katalisator dalam perannya mengamalgamasikan beragam klan anti-empati.
Setidaknya hal ini diilhami oleh sebagian kawan kita yang menganggap diri mereka “berbeda” ini. Berkaca dari yang sudah-sudah, ternyata ilmu pengetahuan dan teori-teori umat manusia yang tersusun secara sistematis dan turun-menurun pun dipaksa harus fleksibel dan menyesuaikan diri, tidak lengang oleh masa, lenggang oleh opini yang berlaksa. Ambil contoh dalil skala prioritas pemenuhan kebutuhan manusia,namun sekarang telah bergeser dan secara simultan mengalami sedimentasi ke sisi rapuh regresif mentalitas diri, namun sangat progresif terhadap ideas politik dunia ketiga.
Kebutuhan primer meliputi papan, sandang, pangan, sekarang pada aplikasinya 3 prioritas utama itu harus rela berdesakan dengan barang-barang mewah yang menginterpretasikan seseorang yang gila prestisi. Dalam konteks ini saya memang tidak menyalahkan saudara sekalian yang memang bergelimang kapital, tapi saya menyoroti efek kumulatif dan resultan yang ditimbulkan, yaitu mempengaruhi sikap dan perilaku makhluk-makhluk ini dalam bersosialisasi. Bagaimana prestisi menggamit lengan-lengan legam yang dinamakan materi, membelah, bersatu, membelah lagi memunculkan beragam citra diri yang ilogik dan jauh dari kesan kemanusiaan. Prestisi secara restriktif mensegregasikan diri dengan dunia luar, mengkotak-kotakkan umat manusia, seolah memiliki otorisasi untuk memampatkan koloni kaum marjinal di bawah telapak kaki mereka.
Kaum bourgeoisie/bourgeois (baca : /’burzywa`zie/) cenderung mengidentikkan diri sebagai umat eksibisionis, eksklusif, pemuja etos efisiensi kerja, dan cenderung membasuh lengan bila harus berurusan dengan remeh-temeh, tetek-bengek yang menghadapkannya pada kalangan beda strata dalam hirarki martabat dan perspeksi prestisi. Dan yang memilukan hal ini menjadi budaya turun-temurun dan mengakar menjadi sebuah persuasi demoralisasi bagi teruna-terunanya.”L`detroit divine”(utusan Tuhan) begitu kira-kira suara-suara yang bergaung di tempurung juvenil-juvenil muda ini. A superficial juvenile, sekelompok manusia dewasa yang jiwanya terbelenggu prestisi secara berlebih, gila perhatian, maniak tampil tak berotak. Mereka seolah menemukan antitesis bagi kesombongan nurani mereka, yang telah bermahkotakan berlian berukirkan “life for prestige”. Mereka menganggap diri mereka berbeda dengan orang sekelilingnya, hanya karena mempunyai kapital yang berlimpah, mutiara yang menjuntai-juntai, dsb. Merasa bak keturunan darah biru (purebreed) sebuah klan, dengan beragam keunggulan dan merasa kotor, cela jika melakukan kontak dengan klan lain dan tidak akan bisa memurnikannya lagi dan merugi karena tidak mendapat restitusi. Merasa paling pantas terpampang di Ode klasik masa lampau. Merasa kaumnya paling unggul, tak beda dengan sikap chauvinism bangsa Arya, atau seperti ksatria-ksatria Dragon Court (Skandinavia-Bavaria). Merasa bersinar dan gemerlap bak Aurora-borealis di landskap petang Antartika. Lebih jauh, mereka mulai mengidap megalomania stadium akhir, atau menganggap diri mereka sebagai komunal avant-garde yang unggul dalam bidang seni dan mempunyai selera tinggi mengenai beragam peradaban yang mereka ciptakan sendiri dalam dunia antah-berantah otak mereka. Potensi diri kalian ingin digali, ditemukan dan dihormati secara adiluhung bak Candi Borobudur yang dipugar oleh UNESCO, yang sebenarnya cuma pertaruhan gengsi, ditemukan seperti puing-puing Atlantis di dasar samudra Atlantik. Ya, merasa beradab bak peradaban machu-pichu yang telah terkubur, Tentunya jika kita diberi hak untuk memilih sebelum kita dilahirkan, kita akan memilih dilahirkan menjadi kaum yang sehat-sentosa, tak bercacat cela, rupawan. Tapi kita tidak bisa memilih!! Apa bedanya kaum ini dengan kaum yang menyukai lelucon-lelucon rasis??
Mereka lena dengan beragam agitasi-agitasi sekeliling akan pentingnya perhatian dari audiens, mau-maunya dibelenggu, dipasung, dilucuti oleh gengsi, yang cuma sekelumit dari bobroknya fragmen jati diri. Lantas mengapa mereka repot-repot membentuk koridor-koridor dan menamainya “perbedaan”? Tertawa jenaka, ketika melihat tangan remaja seusianya legam terbakar terik, membanting tulang, memainkan parodi kekecewaan di diri mereka, teruna-teruna eksibisionis ini hanya ongkang-ongkang kaki dan masa bodoh, serta menjadikannya sebuah obyek lelucon tak berperasaan. Jika diibaratkan macam rabun mata, mata hati mereka meradang dan mengidap myopia (rabun jauh). Susah menerawang jauh kedepan, dan hanya berkutat melihat apa yang disekitar. Selalu mendongakkan kepala keatas, tanpa mau mencari ilham atas apa yang mereka lihat dibawah. Lagi-lagi, saya tidak mendeskriditkan mereka, sah-sah saja, tapi saya mengutuki sikap mereka.
Beginikah Akhir semesta, ending dari kosmos yang menurut ahli falak akan tutup usia di ujung desember 2012 ? Tengok saja, penghuninya saja sudah menginterpretasikan diri mereka sebagai kumpulan konstelasi bintang-bintang yang tumpah ruah di ranah bima-sakti, berpijar, meledak, melesat-lesat di tatanan jagad dengan kemilau angkuh dan kecongkakannya. Sangat Ironi, Paradoks lain bagi tangan-tangan lemah yang masih berkutat di genangan becek kemelaratan, dengan otot-otot legam terburai, seakan getir ingin menceritakan penatnya kepada siapa saja. seakan pedih enggan berpendar dari hidup mereka, hidup seadanya, wajah pias berharap, menantang maut disetiap lembaran baru hari mereka.
” kapital mempengaruhi seseorang dalam menilai sesama, mengelompokkan, dan enggan bergaul dengan sesama yang dirasa tidak memiliki strata yang sepadan “
“Aku terlalu lemah untuk mengutuki prestisimu, biarkan angin yang bergesekan dengan kulitku yang merajammu, biarkan sara gemericik air yang menghujatmu bertalu-talu”
/dimaz (mempertanyakan eksitensi dan esensi dari hawa panas “materi” )
sebuah topik yang minta diangkat oleh seorang teman saya, sebut saja “ambigu” / “labia major” (hahaha)

“Kapital bertindak sebagai katalisator dalam perannya mengamalgamasikan beragam klan anti-empati.” kalimat yang tidak aku mengerti. hihi.
ah tapi setuju!!!! kamu bener bener menginterpretasikan apa yang ada di dalam benakku. bahwa mereka tak mau mengotori tangannya untuk hal hal remeh. bahwa mereka merasa mempunyai genetik unggul, padahal hanya terlahir dengan harta yang berlimpah. dan tak mau bergaul dengan orang orang yang mereka anggap lebih rendah karena tak mempunyai materi sebanyak mereka dan menjalani hidup yang berbeda dengan gaya hidup mereka yang glamour dan mengutamakan PENAMPILAN LUAR.
anyway, aku yakin kalo mereka baca ini mereka juga paling ga ngerti, apalagi ngerasa. huahahaha. saking matanya uda ketutupan harta – dough eyed
btw, enak aja labia major. dasar dim-asshole. wakakak. pisss