Teruntuk :
MAMA EMY RESTININGSIH.
“…Hadirmu adalah Hakiki, kasih sayangmu adalah esesi, dan aku menjadi seseorang yang bangga akanmu…”
Biarkanlah kini, aku menuangkan sekelumit persepsiku tentangmu, biarkan hati ini yang menuntunku dalam mendeskripsikanmu…
Kau mencintaiku bukan dengan eksplanasi teori berbelit, penjelasan terkonsep dan terperinci, namun dengan cinta yang sederhana, kecup mesra setiap saat, usapan lembut, sepanjang waktu, tak bersyarat. Engkau membesarkanku dengan penuh sabar, cinta berselimut ketulusan, melimpah kasaih mesra berbalut kehangatan, berpeluh keringat dan darah mencari nafkah, hanya untuk melengkapi nutrisi yang aku perlukan, engkau menyingkirkan ego dan kesenanganmu, dan hanya aku yang menjadi prioritas utamamu menjalani kerasnya hidup.
Ya, kini jagoan kecilmu telah beranjak dewasa, mataharimu sudah meninggi dan bersiap menghadapi dunia, benih cintamu telah beranjak menjadi seorang remaja, menanggalkan segala atribut “kekanak-kanakkan”nya. Tidak akan ada lagi kecupan manis yang engkau daratkan di keningku, entah kapan lagi engkau akan mengusap rambutku, menjadi sandaranku ketika kadang aku terjatuh. Ketahuilah bahwa betapa semua ingatanku tentangmu terekam manis dalam relung batinku. Tetapi sampai kapanpun aku tetaplah jagoan kecilmu, yang selalu rindu tuk berada di dekatmu, yang selalu ingin kau timang, yang ingin selalu menghabiskan malam dengan senda gurau dan bermanjaan denganmu.
Tidak banyak yang kuingat ketika aku balita, yang aku tahu, engkau telah melaksanakan tugasmu sebagai seorang ibu super dengan segala keterbatasanmu. Engkau selalu memberiku yang terbaik, dalam segala hal, studi tak terkecuali. Masa SMA ketika ego mulai mengambil kendaliku, sifat pemberontakku mulai tampak, kita mulai sering bersitegang, beda pendapat, beradu argumen yang terkadang sangatlah sepele. Aku tahu engkau terkadang jengah melihat tingkahku, melihat tingkahku yang urakan, jauh dari angan-angan yang kau gantungkan tentangku sebagai seorang anak yang santun. Mungkin batinmu menjerit, marah, geram. tapi inilah anakmu dengan segala kekurangannya. Tapi tahukah engkau di setiap kemarahan dan ketidakpuasanku akan perhatian berlebihmu, aku selalu menyelipkan permohonan maaf dan sesalku? Taukah engkau bahwa aku tetap menyayangimu disetiap pembangkangan yang aku lakukan?
“…Kemarahanmu adalah senandung cinta bagiku dalam kemasan yang lain…”
Tak terasa sudah 18 tahun aku berada di dekatmu, terus merasakan betapa hangatnya kasih perhatianmu, menghirup wangi tubuhmu. Adamu membuatku telah mempelajari banyak hal, darimulah pertama kali aku belajar menghargai wanita, darimulah aku pertama kali memahami definisi “kasih sayang” seutuhnya, darimulah aku belajar kepada siapa aku harus berbakti. Selama 18 tahun pula kau menjadi motivator pribadi sekaligus idolaku, spirit dalam menjalani hari. Andai ada kata yang lebih dari ” terima kasih”, bila saja ada sikap selain berbakti seutuhnya yang mampu menggambarkan betapa besarnya rasa terima kasaih yang ingin kuucapkan, akan kulakukan untukmu. Berjuta materi, gelimang kemewahan, tetaplah tak sebanding dengan tiap tetes air mata yang jatuh saat kau membesarkanku, tak sebanding dengan milyaran keping kasih sayang yang kau dermakan ke hatiku, sedari kecil.
“aku ingin melihat engkau tersenyum bangga disaat engkau menjalani masa tuamu, melihatku menjadi seseorang yang engkau harapkan. aku tak akan mengecewakanmu.”
Beberapa hari lagi aku akan meninggalkanmu, untuk melanjutkan harapan yang kau gantungkan padaku, untuk meneruskan estafet ekspektasi yang disemat di dalam batinku. Ya, melanjutkan studi di tempat lain. Kau berat melepasku, begitupun aku. Biarkanlah kiranya waktu yang sebentar ini kupergunakan bersamamu, membisikkan simfoni cinta ke dalam telingamu, melantunkan senandung rindu yang nanti akan kupendam dalam-dalam.
Inilah anakmu, dengan segala keterbatasan yang dipunyai,yang mengasihimu, mengandalkanmu, anak mama yang selalu menyayangimu.
“…wanita terindah yang dianugerahkan Tuhan dalam hidupku, adalah mama…”
Berjuta peluk cium hangat untukmu, mamaku sayang…
BUNDA NOMOR SATU SEDUNIA.


bagus banget dim..
thanks wan
mampir2 lagi ya kapan2