Ingin rasanya menorehkan kisah yang saya potret melalui kedua mata indrawi saya sejak beberapa hari yang lalu, tetapi karena terbentur oleh kepentingan-kepentingan yang tak bisa ditinggalkan, pula masalah minat yang terkadang tak kunjung datang ketika dinantikan. Maka baru malam ini saya mencoba memproyeksikan pengalaman saya. Mencoba menjadi perantara terhadap suatu hal yang entah pada akhirnya dipandang berguna, atau tidak. Mencoba menjadi alat masturbasi pemikiran segelintir orang, atau lebih sopannya perenungan atau mesin pemuas atas berkelebatnya pemikiran yang mungkin sejak jauh-jauh hari kita pertanyakan.
Kala itu waktu mulai beranjak petang, terkadang saya membiasakan diri untuk berjalan-jalan sendirian, barangkali mencari udara segar, atau paling tidak membunuh kebosanan, mengusir kepenatan. Tujuan menjadi suatu hal yang absen nangkring di pikiran saya di saat seperti itu. Seperti biasanya, saya keluar berbekal sebungkus rokok lengkap dengan pemantiknya, dalam beberapa kedipan mata saja saya sudah berada di jalanan. Gambaran suasana malam itu tak jauh beda dari malam-malam biasanya, tak begitu dingin, namun kering. Beberapa bintang mulai nampak walaupun sebagian masih tersangkut di balik awan yang mulai menghitam. Di jalanan yang mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan bermesin, mataku liat mencari satu hal : tempat yang sekiranya bisa digunakan untuk duduk, dan mengamat-amati keriuhan sekitar. Dan salah satu sudut jalan dekat perempatan besar menjadi destinasi terakhir.
Setengah jam lamanya saya duduk memaku di pinggir jalan, mengamati tiap raut muka berbeda yang muncul dari setiap pengendara jalan, ada yang rautnya dikuasai keletihan setelah seharian mencari sesuap nasi, yang lain mungkin baru akan berangkat kerja. Air muka yang berwarna justru terpancar dari wajah muda-mudi yang kemungkinan akan memanfaatkan sebaik-baiknya waktu apel bersama pasangan.
Dan tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh suara mengiba.
“Mas, aqua-ne mas, tulung dipayoni mas. Opo nek ra rokok e mas” (Mas, aqua-nya mas, tolong dibeli. Apa kalau gak rokoknya, mas)
Dengan logat jawa yang begitu kental dan nada yang terbata, anak kecil tersebut memberanikan diri mendekat. Sekali lagi dia mengulangi tawarannya karena sedari tadi aku diam, tak mengindahkan tanyanya. Tubuhnya jauh dari rerata tubuh anak seusianya, kecil, kurus kering. Kulitnya sawo matang, tapi menghitam di sekitar leher membentuk cincin berbahan dasar daki. Tangan dan kakinya lebih legam, entah karena debu yang melekat atau karena sengat terik mentari siang. Rambutnya ikal, bidang wajahnya asimetris, Bola matanya kecoklatan, namun keduanya tak kongruen, yang satu seperti hendak mencolot keluar, bola mata lainnya membelesak kedalam seperti mengecil. Pakaiannya tak terlalu kumal, satu setel kemeja kotak lawas dan celana pendek krem dengan beberapa sobekan disana-sini. Andai perutnya menggelembung mungkin aku akan mengira dia migran dari Etiophia yang fasih berbahasa jawa. Dari mata coklatnya aku menangkap pesan bahwa dia keletihan seharian mencari uang.
Bermodal kecakapan meyakinkan pembeli yang tak sefasih sales panci atau sales pakaian dalam wanita, setelah sempat aku permainkan dengan bakat usil yang aku punya, akhirnya aku luluh juga oleh usahanya. Aku berjalan cukup jauh dan cukup kelelahan, sehingga tak ada salahnya aku membeli minuman dagangannya, pikirku. Setelah transaksi terjadi anak kecil ini mohon diri untuk segera pergi, tapi aku menghambat lajunya dengan suaraku. Aku mengajaknnya duduk disebelahku dan memintanya menemani, untuk sekedar bercerita siapa dirinya, bagaimana kehidupannya.
Namanya Arson, dia putus sekolah. Namanya sempat membuatku bertanya-tanya. Dalam keadaan yang sedemikian keheranan aku berpikir bagaimana bisa dia mempunyai nama seperti itu, yang menurutku keren mungkin, untuk ukuran nama anak pribumi, toh persepsi keren menurutku tak juga surut walau ternyata anak itu tak tahu artinya. Terdengar begitu jantan, layaknya nama ksatria di abad pertengahan mungkin, “Arson!, Arson!”
Sudah-sudah, aku mulai melantur.
Dia lupa apakah itu namanya sedari lahir atau nama yang diberikan oleh orang-orang disekitarnya. Karena dari mulutnya aku tahu bahwa dia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dari balita, mungkin karena alasan klasik tak mampu membiayai anaknya. Penggambaran yang aku tangkap seketika:
Semakin banyak orang tua yang takut menghadapi kerasnya hidup, orang tua yang lembek, yang hanya mampu memuaskan selangkangannya, tanpa mau menanggung bakal benihnya. Lalu kenapa tak meracap dan menggesek-gesekkan kemaluan di pinggiran meja atau mengunjungi los-los prostitusi dengan ijin kerja panti pijat dan sejenisnya kalau alasan menikah hanya dilandasi kepentingan birahi saja?
Saya ingin marah, tapi amarah saya memuai di langit ,rasa geram dan hujatan hanya memantul-mantul dan bergaung di dinding hati, selanjutnya tercekat dan berhenti di kerongkongan, sebelum sempat dimuntahka, setelah menyadari kebingungan selanjutnya. “Saya marah kepada siapa? Apakah kemarahan saya akan menyelesaikan keadaan dan membuat anak ini menjadi tak kekurangan?”
Dia dirawat oleh orang yang menemukannya dijalanan ketika dia berusia lima tahun, yang dikemudian hari dianggapnya sebagai orang tua. Setelah besar, karena penghasilan Pak Narto dan Bu Sriyati, demikian nama orang tua angkat Arson, tak memenuhi harapan dan pas-pasan. Maka dengan bekal seadanya Arson dilepas kejalanan dengan berdagang koran(hanya waktu pagi), rokok, makanan ringan, dan minuman seperti sekarang.
Satu hal yang tak lepas dari ingatan saya adalah senyum yang terus mengembang dari bocah ingus tersebut, bahkan ketika saya tanya minatnya tentang sekolah yang tak pernah dienyamnya pun, anak kecil ini hanya berkata,
“Sekolah ning ndalan yo iso mas, wong ra urung wong-wong sing sekolah kae yo ra tau sinau. Ngko dadine yo kere koyo aku. Ngrekasake wong tuwo tok. Hahahahaha. Eh, tapi aku pengen dadi koyo iki mas. Bapake ngganteng, pinter, nganggo peci meneh, mesti agamane kuat ya mas.” (Sekolah di jalan juga bisa mas, toh kenyataanya orang yang sekolah itu juga pada gak belajar. Nanti jadinya juga miskin kaya aku. Menyusahkan orang tua saja! hahahaha. Eh, tapi aku ingin jadi kaya ini mas. Bapaknya ganteng, pintar, pake peci lagi, pasti agamanya kuat ya mas.)
(sambil menunjuk salah satu baliho kampanye wakil walikota yang mengumbar senyum manis yang tak dibuat-buat, kesan ideal calon-calon aristokrat, dengan peci yang selalu menyertai, tanpa kita tahu apa maksudnya)
Gelak tawa-pun pecah dari balik gigi-giginya yang kekuningan, dan aku pun juga ikut-ikutan tertawa. Kali ini tawa miris yang keluar dari bibirku. Ya, aku merasa tersindir oleh gelagat dan ucapan bocah tengik ini. Andai saja latar peristiwa itu di gang sepi yang sempit, mungkin tanganku sudah mendapatkan posisi yang nyaman di lehernya dan mencekiknya sedari tadi. Sambil mengusap-usap pundaknya, aku hanya bisa mendoakan niatannya, dan mengamini ucapan polosnya yang mungkin akan ditariknya ketika dia tahu seberapa berat tugas yang harus diemban oleh profesi yang diinginkannya. Salahkah bila anak jalanan mempunyai mimpi, Tuhan?
Kami bercerita banyak hal, ketika aku memintanya bercerita akan satu hal, dengan berapi-api dia menjabarkannya. Bahkan ketika aku belum memberinya pertanyaan, dia memberondong dengan jawaban-jawaban yang terbaca dari raut wajahku. Aku rasa dia anak yang cerdas, hanya kurang beruntung. Dan Arson adalah potret satu dari jutaan anak di negeri ini yang kepayahan menghidupi hidup, bergulat mati-matian dengan rasa lapar siang-malam, menghadapi kenyataan pahit yang mereka ratapi setiap harinya, atau kalau meminjam istilah orang-orang yang mudah-berputus-asa: Takdir. Takdir, selalu jadi alasan setiap orang yang tidak mau berusaha, saya kira. Lantas apa hanya dengan kata “Takdir”, kita lalu bisa seenaknya berpasrah diri dengan kedua tangan terlipat sembari menunggu keajaiban datang untuk hari-hari kita? Sama sekali tidak.
Tetapi dalam benak saya paling tidak, Arson adalah potret manusia utopis yang mencoba untuk realis.
Utopis dalam berpandangan ke depan, Realis dalam aplikasi sehari-hari. Entah bagaimana nasib membawanya kelak, atau kemana angin akan menerbangkannya esok. Saya yakin orang-orang seperti Arson adalah seorang jawara kehidupan, seorang manusia sejati secara kodrati. Manusia yang berani menghadapi hidup, tak seperti kedua orang tuanya.
Jeda.
Malam itu saya belajar dari seorang anak jalanan. Bagaimana menghadapi kerasnya hidup, tentang usahanya untuk berlaku lebih licik dari kehidupan, untuk menertawai kerasnya kehidupan itu sendiri. Bahkan, ketika tak bisa tidur aku mencoba kembali ke pojok perempatan jalan tempat aku dan bocah itu bertemu, tapi Arson tak nampak batang hidungnya. Seolah-olah malam menyembunyikannya, atau jalanan tiba-tiba mempunyai mulut yang begitu besar sehingga sanggup menelan dan melumat tubuh kurusnya bulat-bulat. Bahkan, malam-malam berikutnya pun aku masih memikirkan anak itu, tentang kegigihannya, tentang mimpinya yang tak pernah mati.
–Semarang, 24 Mei 2010–